Labels

Penghuni aliran kuburan Kuno

Lin Chaoying (林朝英) adalah pendiri  kuburan Kuno. Dia seorang wanita yang tidak menikah karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan pada Wang Chongyang, pendiri aliran Quenchen. Dizamannya dia merupakan pendekar wanita pembela yang lemah.  Sebelum menyepi di kuburan kuno, Lin Chaoying sering mengembara dan bergelar dewi giok. Bahkan besar kemungkinan kuil Dewi Giok (Jade maiden temple) di bangun untuk mengenang dirinya. Selama hidupnya, Lin Chaoying selalu ditemani oleh pelayan setianya. Pelayan inilah yang kemudian menjadi guru  Li Mochou dan Siaw Liong Lie.

Siauw Liong Lie. Pada awalnya dia adalah bayi mungil yang ditemukan oleh para pendeta aliran Quenchen. Karena bayi itu perempuan maka dia tidak diterima di Quenchen. Lalu dia diambil oleh pelayan Lin Chaoying dan di bawah ke kuburan kuno. Sejak kecil dia di jaga dan dirawat oleh nenek Sun. Setelah besar dia mulai berlatih kung fu di bawah ajaran gurunya yaitu pelayan setia Lin Chaoying dan menjadi adik seperguruan Li Mou Chou. Siauw Liong lie mempunyai nama kecil Long’er. Nama panggilan yang kemudian di gunakan oleh Yoko setelah keduanya menikah. Siauw Liong Lie mempunyai sifat yang lebih baik dari Li Mochou, karena itu dia dipilih untuk menjadi pewaris aliran kuburan kuno.

Nenek Sun. Seorang wanita tua yang tinggal bersama dengan Siauw Liong Lie dalam kuburan Kuno. Dia adalah orang yang telah merawat dan membesarkan Liong Lie. Dia pula yang kemudian menyelamatkan Yoko dan membawanya masuk ke kuburan kuno meski harus melangar peraturan. Nenek Sun sangat menyayangi Yoko, namun karena peraturan ketat Liong Lie, dia mengantarkan Yoko kembali ke Sekte Quanzhen, lalu terbunuh  secara tidak sengaja oleh Hao Datong.  Dengan napas sekarat, ia meminta Siauw Liong lie berjanji padanya untuk mengurus Yang Guo seumur hidupnya. Janji yang kemudian membuat Liong Lie menjadi istri Yoko dan hidup bersama suka dan duka.

Yoko. Tokoh utama dalam Return of the Condor heroes merupakan murid dari Siauw Liong Lie. Sejak kematian nenek Sun, Yoko lah yang telah menemani Liong Lie tinggal dikuburan kuno. Selama 6 tahun, mereka berdua saling bergantung satu sama lain tanpa campur tangan dari dunia luar. Tak heran jika dari kedekatan itu muncul sekelumit rasa cinta dan rasa ingin memiliki yang ketika di bawa ke dunia luar dan terekspos malah menjadi benih-benih penderitaan bagi keduanya.

Li Mochou.  Dalam rimba persilatan di juliki sebagai scarlet serpen Deinty atau  "Red Peri" (赤 练 仙子). Dia adalah kakak seperguruan Siauw liong Lie  yang di usir oleh gurunya. Dia memiliki kung fu nya jauh lebih kuat daripada Siauw Liong Lie pada awal novel ini. Meskipun dia cantik dalam penampilan, dia berubah  menjadi pembunuh keji setelah kekasihnya Lu Zhanyuan mengkhianatinya. Namun sisi kelembutannya muncul saat menjaga dan merawat Kwee Siang yang di culiknya dari Siauw Liong li. Meski seumur hidupnya dia selalu membuat masalah dan ingin mendapatkan kitab hati gadis suci, tapi sebenarnya dia menyayangi siauw liong li, meski hanya sedikit.  Li Mochou memiliki banyak musuh, tapi mati karena bunuh diri dengan melemparkan dirinya ke dalam api saat istana lembah putus cinta terbakar.

Hong Lingbo.  Adalah murid Li Mochou. Dia agak bersimpati kepada Lu Wushuang sering berbicara untuk dirinya. Hong Lingbo sebetulnya orang yg baik, hanya saja berguru pada orang yang salah. Dia murid yang setia dan penurut terlepas dari rasa takut pada Li Mochou. Diakhir hayatnya, Hong Ling Bo digunakan sebagai pijakan kaki oleh gurunya untuk melepaskan diri dari bunga-bunga cinta dan meninggal setelah ditusuk oleh duri bunga beracun tersebut.

Karena ilmu pedang berpasangan dari kitab hati gadis suci yang di mainkan oleh Liong Lie dan Yoko, Aliran kuburan kuno menjadi terkenal dan disegani oleh para pendekar rimba persilatan.

Tuhan Dalam Agama Buddha


Buddha Gautama menolak untuk mengekspresikan pandangan tentang penciptaan and stated that questions on the origin of the world are distractions and irrelevant. ketidakpatuhan dengan gagasan tentang mahakuasa pencipta dewa atau prime mover dipandang oleh banyak orang sebagai perbedaan utama antara Buddhisme dan agama-agama lain.

Sebaliknya, Buddhisme menekankan sistem hubungan kausal yang mendasari alam semesta ( pratitya samutpada) yang merupakan tatanan alam ( dharma). Tidak ada ketergantungan pada realitas fenomena supranatural ditegaskan untuk menjelaskan perilaku materi. Menurut ajaran Sang Buddha manusia harus mempelajari Alam ( dhamma vicaya) untuk mencapai kebijaksanaan pribadi ( prajna) tentang sifat hal ( dharma). Dalam Buddhisme satu-satunya tujuan latihan spiritual adalah pengentasan lengkap stres di samsara, yang disebut nirwana.

Beberapa guru memberitahu siswa awal Buddha meditasi bahwa gagasan ketuhanan tidak bertentangan dengan agama Buddha, dan setidaknya satu sarjana Buddhis telah menunjukkan bahwa menggambarkan Buddhisme sebagai 'non-teistik' mungkin terlalu sederhana; tetapi beberapa keyakinan theist tradisional dianggap menimbulkan penghalang bagi pencapaian nirwana, tujuan tertinggi dari ajaran Sang Buddha.

Meskipun demikian, umat Buddha menganggap menghormati orang-orang tercerahkan yang sangat penting. Dua tradisi besar Budha berbeda dalam sikap hormat mereka. Sementara Theravada Buddhis melihat Buddha sebagai manusia yang mencapai nirwana atau Buddha, melalui upaya manusia, Buddha Mahayana menganggap dia sebagai menggabungkan esensi kesatuan kosmik alam semesta, yang disebut Dharmakaya, dan dilahirkan kembali untuk kepentingan orang lain.

Umat ​​Buddha menerima keberadaan makhluk hidup di alam yang lebih tinggi (lihat kosmologi Buddhis), yang dikenal sebagai dewa, tetapi mereka, seperti manusia, yang dikatakan menderita di samsara, dan belum tentu lebih bijaksana dari kita. Bahkan Buddha sering digambarkan sebagai guru dari beberapa dewa, dan lebih unggul dari mereka. Meskipun dewa, seperti semua makhluk hidup lainnya, mungkin menjadi Bodhisattva tercerahkan dan mencapai kesucian.

Ibadah umat Buddha dan fokus pada hukum spiritual alam semesta untuk mencapai pencerahan. Dharmakaya kadang-kadang direpresentasikan sebagai Buddha abadi dan dipandang sebagai kekuatan universal pemersatu

Trimurti

Trimurti adalah tiga kekuatan Brahman (Sang Hyang Widhi) (sebutan Tuhan dalam agama Hindu) dalam menciptakan, memelihara, melebur alam beserta isinya.

Trimurti terdiri dari 3 yaitu :
  • Dewa Brahma
Fungsi: Pencipta / Utpathi
Sakti: Dewi Saraswati yang merupakan dewi ilmu pengetahuan
Senjata: Busur
Simbol: A
Warna: Merah
  • Dewa Wisnu
Fungsi: Pemelihara / Sthiti
Sakti: Dewi Laksmi atau Sri
Senjata: Cakram
Simbol: U
Warna: Hitam
  • Dewa Siwa
Fungsi: Penghancur / Pralina
Sakti: Dewi Durga, Uma, dan Parwati
Senjata: Trisula
Simbol: M
Warna: Manca Warna
Apabila simbol dari ketiga dewa tesebut digabungkan, maka akan menjadi AUM yang dibaca "OM" ( ) yang merupakan simbol suci agama Hindu.

Tapak Sakti Buddha

Jurus ke-9 ; Segenap Buddha Menyembah Sakyamuni / Para Buddha Menghadap yang Maha Suci.


Tapak Sakti Buddha

Jurus ke-4; Budha Menegur Ghalan / Buddha Bertanya pada Rama Bodhisatva

Jurus ke-5; Menyambut Buddha di Nirwana / Menyongsong Budha di langit Barat

Jurus ke-6; Buddha Lahir ke Dunia / Budah Turun ke Jagad

Jurus ke-7; Buddha menyinari Dunia / Sinar sang Buddha Menerangi Jagad

Jurus ke-8; Dharma Buddha tak Bertepi / Kesaktian Buddha Tiada Tara



Tapak Sakti Budha

Jurus ke-3; Lampu Buddha Bertudung Emas / Lentera Budha di Puncak Emas


Tapak Sakti Budha

Jurus ke-2; Buddha Mengguncang Sungai gunung / Budha menghentak Jagad


Tapak Sakti Budha

Jurus ke-1 ; Cahaya buddha muncul / Sinar Sang Budha Menyeruak


Tapak Sakti Budha

Pada masa dahulu kala di zaman Tian Chu (India), para penduduk hidup dalam keadaan menderita, kelaparan, miskin dan diserang oleh berbagai macam penyakit. Sebaliknya, para bangsawan hidup mewah, berfoya-foya dan bersikap semena-mena terhadap rakyat jelata. Hawa iblis timbul dari ‘”kebencian” kaum miskin dan “keserakahan” kaum bangsawan.

Saat itulah sang ketua kaum brahmana mengambil kesempatan untuk menguasai seluruh negeri serta membangkitkan 5 siluman racun; Hawa nafsu, Harta, Pikiran, tindakan, dan Pengetahuan. Kelima racun tersebut bersumber dari hawa jahat manusia yang merajalela tiada henti, membawa penderitaan dan menggempakan bumi langit.
Di saat kritis Shidarta Gautama hadir ke bumi, bertekad untuk membasmi iblis dan para siluman yang merajalela mencelakai umat manusia. Berkomplot dengan siluman 5 racun, Brahmana mengeroyok Sidharta. Pertarungan berlangsung hingga 7 hari 7 malam, akhirnya sang Budha pun terdesak. Di ambang batas hidup mati, Sidharta terapung antara batas dunia dan nirwana, terlepas dari semua penderitaan. 

Saat itulah Sidharta menyadari akan segala keberadaan di alam semesta. Gunung yang tinggi, gemericik air sungai, jutaan hewan dan insan, segala perubahan yang ada di dunia ini pada dasarnya adalah satu. Dari sinilah muncul sebuah kebijaksanaan agung. 

Kebijaksaan agung tersebut mampu mengendalikan alam, hingga terciptalah sebuah jurus hebat bernama “Tapak Sakti Budha”. Ada 9 bentuk jurus, kekuatannya menggelegar dan membahana, menghancurkan para iblis dan siluman tersebut; Setiap jurus memiliki daya serang yang dasyat dan tak terbendung, namun juga terdapat kekuatan alam semesta yang memelihara dan menjaga kehidupan. Dipadukan dengan Ilmu Es Penolak api yang tercipta dari Ilmu Api Suci Persia dan Ilmu Es Hitam India, jurus ini pun menjadikan jurus sakti paling hebat dari semua jurus yang ada di rimba persilatan.

Setiap jurus memiliki karakteristik dan penyerapan energi alam dengan sikap mudra yang berbeda-beda ketika mengerahkannya. Namun jurus ke-9; Segenap Buddha Menyembah Sakyamuni memiliki keunikan yang tidak dimiliki 8 jurus lainnya. Jurus ini hanya bisa dikuasai jika seseorang telah menguasai 8 jurus awal terlebih dahulu. Ini dikarenakan jurus ke-9 merupakan esensi dari jurus ke-1 sampai jurus ke-8. Selain memiliki kekuatan yang lebih dasyat, jurus Segenap Buddha Menyembah Sakyamuni memiliki kekuatan untuk menetralisir atau menguraikan segala macam bentuk serangan sekuat apapun.

Korawa atau Kaurawa

Korawa atau Kaurawa (Dewanagari: कौरव; IAST: kaurava) adalah istilah dalam bahasa Sanskerta yang berarti "keturunan (raja) Kuru." Dalam budaya pewayangan Jawa, istilah ini merujuk kepada kelompok antagonis dalam wiracarita Mahabharata, sehingga Korawa adalah musuh bebuyutan para Pandawa.

Istilah Korawa yang digunakan dalam Mahabharata memiliki dua pengertian :

Arti luas : Korawa merujuk kepada seluruh keturunan Kuru. Kuru adalah nama seorang maharaja yang merupakan keturunan Bharata, dan menurunkan tokoh-tokoh besar dalam wiracarita Mahabharata. Dalam pengertian ini, Pandawa juga termasuk Korawa, dan kadangkala disebut demikian dalam Mahabharata, khususnya pada beberapa bagian awal.

Arti sempit : Korawa merujuk kepada garis keturunan Kuru yang lebih tua. Istilah ini hanya terbatas untuk anak-anak Dretarastra, sebab Dretarastra merupakan putra sulung Wicitrawirya (keturunan Raja Kuru), yang berhak menjadi raja menurut urutan kelahiran namun digantikan oleh adiknya, Pandu, karena Dretarastra buta. Istilah ini tidak mencakup anak-anak Pandu, yang mendirikan garis keturunan baru, yaitu para Pandawa.

Dalam Mahabharata diceritakan bahwa Gandari, istri Dretarastra, menginginkan putra. Kemudian Gandari memohon kepada Byasa, seorang pertapa sakti, dan beliau mengabulkannya. Gandari menjadi hamil, namun setelah lama ia mengandung, putranya belum juga lahir. Ia menjadi cemburu kepada Kunti yang sudah memberikan Pandu tiga orang putera. Gandari menjadi frustasi kemudian memukul-mukul kandungannya. Setelah melalui masa persalinan, yang lahir dari rahimnya hanyalah segumpal daging. Byasa kemudian memotong-motong daging tersebut menjadi seratus bagian dan memasukkannya ke dalam guci, yang kemudian ditanam ke dalam tanah selama satu tahun. Setelah satu tahun, guci tersebut dibuka kembali dan dari dalam setiap guci, munculah bayi laki-laki. Yang pertama muncul adalah Duryodana, diiringi oleh Dursasana, dan saudaranya yang lain.

Seluruh putra-putra Dretarastra tumbuh menjadi pria yang gagah-gagah. Mereka memiliki saudara bernama Pandawa, yaitu kelima putra Pandu, saudara tiri ayah mereka. Meskipun mereka bersaudara, Duryodana yang merupakan saudara tertua para Korawa, selalu merasa cemburu terhadap Pandawa, terutama Yudistira yang hendak dicalonkan menjadi raja di Hastinapura. Perselisihan pun timbul dan memuncak pada sebuah pertempuran akbar di Kurukshetra.

Setelah pertarungan sengit berlangsung selama delapan belas hari, seratus putera Dretarastra gugur, termasuk cucu-cucunya, kecuali Yuyutsu, putra Dretarastra yang lahir dari seorang dayang-dayang. Yang terakhir gugur dalam pertempuran tersebut adalah Duryodana, saudara tertua para Korawa. Sebelumnya, adiknya yang bernama Dursasana yang gugur di tangan Bima. Yuyutsu adalah satu-satunya putra Dretarastra yang selamat dari pertarungan ganas di Kurukshetra karena memihak para Pandawa dan ia melanjutkan garis keturunan ayahnya, serta membuatkan upacara bagi para leluhurnya.

Kisah pemutaran Mandaragiri

Dikisahkan, pada zaman dahulu kala, para Dewa, detya, dan rakshasa mengadakan rapat untuk mencari tirta amerta (air suci). Sang Hyang Nārāyana (Wisnu) mengatakan bahwa tirta tersebut berada di dasar laut Ksira. Cara mendapatkannya adalah dengan mengaduk lautan tersebut. Para Dewa, detya, dan rakshasa kemudian menuju laut Ksira. 

Untuk mengaduknya, Naga Wasuki mencabut gunung Mandara (Mandaragiri) di pulau Sangka sebagai tongkat pengaduk. Gunung tersebut dibawa ke tengah lautan. Seekor kura-kura (Kurma) besar menjadi penyangga/dasar gunung tersebut. Sang Naga melilit gunung tersebut, kemudian para Dewa memegang ekornya, sedangkan rakshasa dan detya memegang kepalanya. Dewa Indra berdiri di puncaknya agar gunung tidak melambung ke atas.

Beberapa lama setelah gunung diputar, keluarlah Ardhachandra, Dewi Sri, Dewi Lakshmi, kuda Uccaihsrawa, dan Kastubhamani. Semuanya berada di pihak para Dewa. kemudian, munculah Dhanwantari membawa kendi tempat tirta amerta. Para detya ingin agar tirta tersebut menjadi milik mereka sebab sejak awal tidak pernah dapat bagian. Tirta amerta pun menjadi milik mereka. 

Para Dewa memikirkan cara untuk merebut tirta tersebut. akhirnya Dewa Wisnu mengubah wujudnya menjadi seorang wanita cantik, kemudian mendekati para rakshasa dan detya. Para rakshasa-daitya yang melihatnya menjadi terpesona, dan menyerahkan kendi berisi tirta tersebut. Wanita cantik itu kemudian pergi sambil membawa tirta amerta dan berubah kembali menjadi Dewa Wisnu.

Para detya yang melihatnya menjadi marah. Tak lama kemudian terjadilah pertempuran antara para Dewa dan rakshasa-detya. Kemudian Dewa Wisnu teringat dengan senjata chakra-nya. Senjata chakra kemudian turun dari langit dan menyambar-nyambar para rakshasa-detya. Banyak dari mereka yang lari terbirit-birit karena luka-luka. Akhirnya ada yang menceburkan diri ke laut dan masuk ke dalam tanah. Para Dewa akhirnya berhasil membawa tirta amerta ke surga.

Kisah Bagawan Dhomya

Dikisahkan seorang Brāhmana bernama Bagawan Dhomya, tinggal di Ayodhya. Ia memiliki 3 murid, bernama: Sang Utamanyu, Sang Arunika, dan Sang Weda. Ketiganya akan diuji kesetiaannya oleh Sang Guru. Sang Arunika disuruh bersawah. Dengan berhati-hati Sang Arunika merawat biji padi yang ditanamnya. 

Ketika biji-bijinya sedang tumbuh, datanglah hujan membawa air bah yang kemudian merusak pematang sawahnya. Ia khawatir kalau air tersebut akan merusak tanamannya, maka ia perbaiki pematangnya untuk menahan air. Berkali-kali usahanya gagal dan pematangnya jebol, maka ia merebahkan dirinya sebagai pengganti pematang yang jebol untuk menahan air. Karena kesetiannya tersebut, Sang Arunika diberikan anugerah kesaktian oleh Bagawan Dhomya.

Sementara itu, Sang Utamanyu disuruh mengembala sapi. Sang Utamanyu tidak diperbolehkan untuk meminta-minta air kalau ia sedang haus saat mengembala sapi, maka ia menjilat susu sapi yang digembalanya. Hal tersebut juga ditentang oleh Sang Guru, maka Sang Utamanyu menghisap getah daun “waduri” untuk menghilangkan dahaga. 

Hal tersebut mengakibatkan matanya buta. Ia tidak tahu jalan sehingga terperosok ke dalam sumur kering. Sampai sore, Sang Utamanyu tidak juga kembali pulang, gurunya menjadi cemas. Ketika dicari, didapatinya Sang Utamanyu berada dalam sebuah sumur. Bagawan Dhomya kemudian mendengarkan cerita Sang Utamanyu. Karena kesetiannya terhadap kewajiban, Sang Utamanyu diberikan mantra sakti yang mampu menyembuhkan penyakit oleh Bagawan Dhomya.

Sementara itu, Sang Weda disuruh tinggal di dapur untuk menyediakan hidangan yang terbaik buat gurunya. Sang Weda selalu menuruti perintah gurunya, meski yang buruk sekalipun. Segala perintah gurunya dikerjakan dengan baik. Maka dari itu, Sang Weda dianugerahi segala macam ilmu pengetahuan, mantra Veda, dan kecerdasan.

Arjuna mengasingkan diri ke hutan

Para Pandawa sepakat untuk membagi Dropadi sebagai istri. Mereka juga berjanji tidak akan mengganggu Dropadi ketika sedang bermesraan di kamar bersama dengan salah satu dari Pandawa. Hukuman dari perbuatan yang mengganggu adalah pembuangan selama 12 tahun.

Pada suatu hari, ketika Pandawa sedang memerintah kerajaannya di Indraprastha, seorang pendeta masuk ke istana dan melapor bahwa pertapaannya diganggu oleh para rakshasa. Arjuna yang merasa memiliki kewajiban untuk menolongnya, bergegas mengambil senjatanya. 

Namun senjata tersebut disimpan di sebuah kamar dimana Yudistira dan Dropadi sedang menikmati malam mereka. Demi kewajibannya, Arjuna rela masuk kamar mengambil senjata, tidak memedulikan Yudistira dan Dropadi yang sedang bermesraan di kamar. Atas perbuatan tersebut, Arjuna dihukum untuk menjalani pembuangan selama 12 tahun. Arjuna menerima hukuman tersebut dengan ikhlas.

Arjuna menghabiskan masa pengasingannya dengan menjelajahi penjuru Bharatawarsha atau daratan India Kuno. Selama masa pengasingannya, Arjuna memiliki tiga istri lagi. Mereka adalah: Subadra (adik Sri Kresna), Ulupi, dan Citrangada. Dari hubungannya dengan Subadra anaknya bernama Abimanyu. Dengan Ulupi anaknya bernama Irawan. Dengan Citrangada anaknya bernama Babruwahana.

Pandawa Mendapatkan Dropadi

Pada suatu hari, Pandawa mengikuti sayembara yang diselenggarakan Raja Drupada di Kerajaan Panchala. Sayembara tersebut memperebutkan Dewi Dropadi. Banyak ksatria di penjuru Bharatawarsha turut menghadiri. Para Pandawa menyamar sebagai seorang Brāhmana. Sebuah sasaran diletakkan di tengah-tengah arena, dan siapa yang berhasil memanah sasaran tersebut dengan tepat, maka ialah yang berhasil mendapatkan Dropadi. 

Satu-persatu ksatria maju, namun tidak ada satu pun yang berhasil memanah dengan tepat. Ketika Karna dari Kerajaan Anga turut serta, ia berhasil memanah sasaran dengan baik. Namun Dropadi menolak untuk menikahi Karna karena karna anak seorang kusir yang tentu lebih rendah kastanya. Karna kecewa tetapi juga kesal terhadap Dropadi.

Para Pandawa yang diwakili oleh Arjuna turut serta. Arjuna berpakaian seperti Brāhmana. Ketika ia tampil ke muka, ia berhasil memanah sasaran dengan baik, maka Dropadi berhak menjadi miliknya. Namun hal tersebut menimbulkan kericuhan karena seorang Brāhmana tidak pantas untuk mengikuti sayembara yang ditujukan kepada golongan ksatria. Arjuna dan Bima pun berkelahi dengan para ksatria di sana, sementara Yudistira, Nakula dan Sadewa melarikan Dropadi ke rumah mereka. 

Sesampainya di rumah, Pandawa berseru, "Ibu, kami datang membawa hasil meminta-minta". Kunti, ibu para Pandawa, tidak melihat apa yang dibawa oleh anak-anaknya karena sibuk dan berkata, "Bagi dengan rata apa yang kalian peroleh". Ketika ia menoleh, alangkah terkejutnya ia karena anak-anaknya tidak saja membawa hasil meminta-minta, namun juga seorang wanita. Kunti yang tidak mau berdusta, membuat anak-anaknya untuk berbagai istri

Adiparwa

Adiparwa (bahasa Sanskerta: आदिपर्व) adalah Buku PERTAMA atau BAGIAN (parwa) PERTAMA Bahasa Dari Kisah Mahabharata. Berisi RINGKASAN keseluruhan Cerita Mahabharata, Kisah-Kisah mengenai Latar Belakang ceritera, nenek moyang Keluarga Bharata, hingga Masa Muda Korawa Dan Pandawa). Kisahnya dituturkan Dalam, sebuah Cerita Bingkai Dan alur ceritanya meloncat-loncat sehingga tidak mengalir seperti Artikel yang baik. Penuturan Kisah Keluarga Besar Bharata nihil dimulai Artikel Baru percakapan ANTARA Bagawan Ugrasrawa Yang mendatangi Bagawan Sonaka di Hutan Nemisa.

Adiparwa dituturkan seperti sebuah narasi. Penuturan isi kitab tersebut bermula ketika Sang Ugrasrawa mendatangi Bagawan Sonaka yang sedang melakukan upacara di hutan Nemisa. Sang Ugrasrawa menceritakan kepada Bagawan Sonaka tentang keberadaan sebuah kumpulan kitab yang disebut Astadasaparwa, pokok ceritanya adalah kisah perselisihan Pandawa dan Korawa, keturunan Sang Bharata. Dari penuturan Sang Ugrasrawa, mengalirlah kisah besar keluarga Bharata tersebut (Mahābhārata).

Mangkatnya Raja Parikesit Dikisahkan, ada seorang Raja bernama Parikesit, putera Sang Abimanyu, yang bertahta di Hastinapura. Ia merupakan keturunan Sang Kuru, maka disebut juga Kuruwangsa. Pada suatu hari, beliau berburu kijang ke tengah hutan. Kijang diikutinya sampai kehilangan jejak. Di hutan beliau berpapasan dengan seorang pendeta bernama Bagawan Samiti. Sang Raja menanyakan kemana kijang buruannya pergi, namun sang pendeta membisu (bertapa dengan bisu). Hal tersebut membuat Raja Parikesit marah. Ia mengambil bangkai ular, kemudian mengalungkannya di leher sang pendeta. Putera sang pendeta yang bernama Srenggi, mengetahui hal tersebut dari penjelasan Sang Kresa, kemudian ia menjadi marah. 

Ia mengutuk Sang Raja, agar beliau wafat karena digigit ular, tujuh hari setelah kutukan diucapkan. Setelah Sang Raja menerima kutukan tersebut, maka ia berlindung di sebuah menara yang dijaga dan diawasi dengan ketat oleh prajurit dan para patihnya. Di sekeliling menara juga telah siap para tabib yang ahli menangani bisa ular. Pada hari ketujuh, yaitu hari yang diramalkan menjadi hari kematiannya, seekor naga yang bernama Taksaka menyamar menjadi ulat pada jambu yang dihaturkan kepada Sang Raja. Akhirnya Sang Raja mangkat setelah digigit Naga Taksaka yang menyamar menjadi ulat dalam jambu

Makna dan Filsafat

Beberapa orang meyakini bahwa filsafat Dasa Awatara menunjukkan perkembangan kehidupan dan peradaban manusia di muka bumi. Setiap Awatara merupakan lambang dari setiap perkembangan zaman yang terjadi. Matsya Awatara merupakan lambang bahwa kehidupan pertama terjadi di air. Kurma Awatara menunjukkan perkembangan selanjutnya, yakni munculnya hewan amphibi. Waraha Awatara melambangkan kehidupan selanjutnya terjadi di darat. Narasimha Awatara melambangkan dimulainya evolusi mamalia. Wamana Awatara melambangkan perkembangan makhluk yang disebut manusia namun belum sempurna. Parashurama Awatara, pertapa bersenjata kapak, melambangkan perkembangan manusia di tingkat yang sempurna. Rama Awatara melambangkan peradaban manusia untuk memulai pemerintahan. Krishna Awatara, yang mahir dalam enam puluh empat bidang pengetahuan dan kesenian melambangkan kecakapan manusia di bidang kebudayaan dan memajukan peradaban. Balarama Awatara, Kakak Kresna yang bersenjata alat pembajak sawah, melambangkan peradaban dalam bidang pertanian. Buddha Awatara, yang mendapatkan pencerahan, melambangkan kemajuan sosial manusia.

Awatara yang turun ke dunia juga memiliki makna-makna menurut zamannya: masa para Raja meraih kejayaan dengan pemerintahan Rama Awatara pada masa Treta Yuga, dan keadilan sosial dan Dharma dilindungi oleh Sri Kresna pada masa Dwapara Yuga. Makna dari turunnya para Awatara selama masa Satya Yuga menuju Kali Yuga juga menunjukkan evolusi makhluk hidup dan perkembangan peradaban manusia.

Awatara-awatara dalam daftar di atas merupakan inkarnasi Wisnu, yang mana dalam suatu filsafat merupakan lambang dari takaran dari nilai-nilai kemasyarakatan. Istri Dewa Wisnu bernama Laksmi, Dewi kemakmuran. Kemakmuran dihasilkan oleh masyarakat, dan diusahakan agar terus berjalan seimbang. Hal tersebut dilambangkan dengan Dewi Laksmi yang berada di kaki Dewa Wisnu. Dewi Laksmi sangat setia terhadapnya.

Filsafat Catur Yuga yang merupakan masa-masa yang menjadi latar belakang turunnya suatu Awatara dideskripsikan sebagai berikut:

Satya Yuga dilambangkan dengan seseorang membawa sebuah kendi (kamandalu)
Treta Yuga dilambangkan dengan seseorang yang membawa sapi dan sauh
Dwapara Yuga dilambangkan dengan seseorang membawa busur panah dan kapak
Kali Yuga dilambangkan dengan seseorang yang sangat jelek, telanjang, dan melakukan tindakan yang tidak senonoh.

Jika deskripsi di atas diamati dengan seksama, maka masing-masing zaman memiliki makna tersendiri yang mewakili perkembangan peradaban masyarakat manusia. Pada masa pertama, Satya Yuga, ada peradaban mengenai tembikar, bahasa, ritual (yajña), dan sebagainya. Pada masa yang kedua, Treta Yuga, manusia memiliki kebudayaan bertani, bercocok tanam dan beternak. Pada masa yang ketiga, manusia memiliki peradaban untuk membuat senjata karena bidang pertanian dan kemakmuran perlu dijaga. Yuga yang terakhir merupakan puncak dari kekacauan, dan akhir dari peradaban manusia.

Jenis - Jenis Awatara

Menurut kitab-kitab purana, tak terhitung banyaknya Awatara yang pernah turun ke dunia ini. Awatara-awatara tersebut tidak selamanya merupakan “inkarnasi langsung” atau “penjelmaan langsung” dari Sang Hyang Wisnu. Beberapa Awatara diyakini memiliki “jiwa yang terberkati” atau mendapat “kekuatan Tuhan” sebagai makhluk yang terpilih.

Purusha Awatara: Awatara pertama Sang Hyang Wisnu yang memengaruhi penciptaan alam semesta. Awatara tersebut yakni:

    Vasudeva
    Sankarshan
    Pradyumna
    Aniruddha

Menurut Bhagavad Gītā:

    Kāranodakaśāyi Vishnu (Mahā Vishnu): Wisnu yang berbaring dalam lautan penyebab dan Beliau menghembuskan banyak alam semesta (galaksi?) yang jumlahnya tak dapat dihitung;
    Garbhodakaśāyī Vishnu: Wisnu masuk ke dalam setiap alam semesta dan menciptakan aneka rupa;
    Ksirodakasāyī Vishnu (Roh utama): Wisnu masuk ke dalam setiap makhluk dan ke dalam setiap atom.

Guna Awatara: Awatara-Awatara yang mengatur tiga macam aspek dalam diri makhluk hidup. Awatara-Awatara tersebut yakni:

    Brahmā, pengatur nafsu dan keinginan (Rajas)
    Wisnu, pengatur sifat-sifat kebaikan (Sattwam)
    Çiwa, pengatur sifat kemalasan (Tamas)

Lila Awatara: Awatara yang sering ditampilkan dalam kitab-kitab Purana, seperti Dasa Awatara dan Awatara lainnya. Awatara tersebut turun secara teratur ke dunia, dari zaman ke zaman untuk menjalankan misi menegakkan Dharma dan menunjukkan jalan Bhakti dan Moksha.

Manwantara Awatara: Awatara yang diyakini sebagai pencipta para leluhur dari umat manusia di muka bumi. (lihat: Manu)

Shaktyawesa Awatara: ada dua jenis – 

1) Makhluk yang merupakan penjelmaan Wisnu secara langsung; dan 

2) Makhluk diberkati yang mendapatkan kekuatan dari Wisnu. 

Jenis tersebut memiliki jumlah yang besar, dan merupakan Awatara yang istimewa. Awatara jenis ini, misalnya saja Narada Muni atau Sang Buddha. Awatara jenis tersebut kadang-kadang dikenal dengan sebutan Saktyamsavatar, Saktyaveshavatar atau Avesha avatar. Awatara lain yang termasuk jenis kedua, misalnya Parashurama, yang mana Dewa Wisnu tidak secara langsung menjelma. Dalam jenis yang kedua tersebut, menurut Srivaishnavism, ada dua macam lagi, yakni: 

1) Wisnu memasuki jiwa makhluk yang terpilih tersebut (seperti Parashurama); 
2) Wisnu tidak memasuki jiwa secara langsung, namun memberikan kekuatan suci (misalnya Vyasa, penyusun Veda).

Awatara jenis kedua tersebut tidak dipuja sebagaimana mestinya Awatara yang lain. Hanya Awatara yang merupakan penjelmaan langsung yang kini sering dipuja, seperti Narasimha, Rama, dan Sri Krishna. Menurut aliran Waisnawa, Krishna merupakan Awatara yang tertinggi di antara Awatara yang lain. Namun, pengikut Sri Chaitanya (termasuk ISKCON), Nimbarka, Vallabhacharya memiliki filsafat berbeda dengan pengikut aliran Waisnawa, seperti Ramanuja dan Madhva dan menganggap bahwa Krishna merupakan kepribadian dari Tuhan yang Maha Esa, dan bukan seorang Awatara belaka. Dalam beberapa filsafat Hinduisme, tidak ada perbedaan dalam memuja Sang Hyang Wisnu ataupun Awataranya karena semua pemujaan tersebut akan menuju kepada-Nya.

Dasa Awatara

Dasa Awatara, sepuluh Awatara Wisnu

Agama Hindu mengenal adanya Dasa Awatara yang sangat terkenal di antara Awatara-Awatara lainnya. Dasa Awatara adalah sepuluh Awatara yang diyakini sebagai penjelmaan material Dewa Wisnu dalam misi menyelamatkan dunia.

Dari sepuluh Awatara, sembilan diantaranya diyakini sudah pernah menyelamatkan dunia, sedangkan satu di antaranya, Awatara terakhir (Kalki Awatara), masih menunggu waktu yang tepat (konon pada akhir Kali Yuga) untuk turun ke dunia. Kisah-kisah Awatara tersebut terangkum dalam sebuah kitab yang disebut Purana.

Dasa Awatara dari zaman ke zaman

    Matsya Awatara, sang ikan, muncul saat Satya Yuga
    Kurma Awatara, sang kura-kura, muncul saat Satya Yuga
    Waraha Awatara, sang babi hutan, muncul saat Satya Yuga
    Narasimha Awatara, manusia berkepala singa, muncul saat Satya Yuga
    Wamana Awatara, sang orang cebol, muncul saat Treta Yuga
    Parasurama Awatara, sang Rama bersenjata kapak, muncul saat Treta Yuga
    Rama Awatara, sang ksatria, muncul saat Treta Yuga
    Kresna Awatara, putra Wasudewa, muncul saat Dwapara Yuga
    Buddha Awatara, pangeran Siddharta Gautama, muncul saat Kali Yuga
    Kalki Awatara, sang pemusnah, muncul saat Kali Yuga

Satyayuga (Zaman Ke-Emasan)

Satyayuga (Dewanagari: सत्ययुग ; disebut juga Satyuga, Kṛta Yuga, Kertayuga) dalam ajaran agama Hindu, adalah suatu kurun zaman yang disebut sebagai "zaman keemasan", ketika umat manusia sangat dekat dengan Tuhan dan para Dewa, ketika kebenaran ada dimana-mana, dan kejahatan adalah sesuatu yang tak biasa.

Permulaan dari siklus Yuga

Satyayuga atau Kertayuga, merupakan tahap awal dari empat (catur) Yuga. Siklus Yuga merupakan siklus yang berputar seperti roda. Setelah Satyayuga berakhir, untuk sekian lamanya kembali lagi kepada Satyayuga. Satyayuga berlangsung kurang lebih selama 1.700.000 tahun. Setelah masa Satyayuga berakhir, disusul oleh masa Tretayuga. Setelah itu masa Dwaparayuga, lalu diakhiri dengan masa kegelapan, Kaliyuga. Setelah dunia kiamat pada akhir zaman Kaliyuga, Tuhan yang sudah membinasakan orang jahat dan menyelamatkan orang saleh memulai kembali masa kedamaian, zaman Satyayuga.

Satyayuga, zaman keemasan

Satyayuga merupakan zaman keemasan, ketika orang-orang sangat dekat dengan Tuhan. Hampir tidak ada kejahatan. Pelajaran agama dan meditasi (mengheningkan pikiran) merupakan sesuatu yang sangat penting pada zaman ini. Konon rata-rata umur umat manusia bisa mencapai 4.000 tahun ketika hidup di zaman ini. Menurut Nathashastra, di masa Satya Yuga tidak ada Natyam karena pada masa itu semua orang berbahagia.

Pada masa Satyayuga, orang-orang tidak perlu menulis kitab, sebab orang-orang dapat berhubungan langsung dengan Yang Maha Kuasa. Pada masa tersebut, tempat memuja Tuhan tidak diperlukan, sebab orang-orang sudah dapat merasakan di mana-mana ada Tuhan, sehingga pemujaan dapat dilakukan kapanpun dan di manapun.

Masa Dwaparayuga Dan Tretayuga

Dwaparayuga adalah zaman ketiga dalam siklus Yuga. Zaman ini merupakan lanjutan dari zaman Tretayuga, zaman ketika moral manusia sempurna. Zaman Dwaparayuga merupakan zaman sebelum Kaliyuga. Zaman ini berlangsung selama 864.000 tahun. Merujuk pada apa yang tertulis di dalam Purana, zaman Dwaparayuga berakhir di kala Kresna kembali ke kediaman abadinya di Waikuntha.

Menurut ajaran agama Hindu, Tretayuga (Dewanagari: त्रेतायुग) adalah jenjang zaman yang kedua dalam siklus Yuga. Zaman ini merupakan lanjutan dari zaman Satyayuga, zaman ketika moral manusia sempurna. Zaman Tretayuga merupakan zaman sebelum Dwaparayuga. Zaman ini berlangsung selama 1.296.000 tahun.

Jika diibaratkan seperti Lembu Dharma (simbol perkembangan moralitas), keempat siklus Yuga seperti lembu yang berdiri dengan empat kakinya, dimana setiap zaman berganti, kaki lembu juga ikut berkurang satu. Zaman Satyayuga seperti lembu yang berdiri dengan empat kaki, mantap. Pada masa Tretayuga, lembu Dharma berdiri dengan tiga kaki.

Pada zaman ini, manusia mulai melakukan dosa-dosa. Penjahat mulai bermunculan. Namun semua masih berjalan seimbang. Aktivitas yang berhubungan dengan agama dan kerohanian terjadi dimana-mana dan sangat erat dengan kehidupan manusia.

Pada zaman ini muncul berbagai peristiwa. Peristiwa yang paling terkenal adalah munculnya Awatara Wisnu yang kelima, keenam, dan kedelapan, yakni: Wamana, Parasurama, dan Rama.